Yuk … Ngerasani

“Pagi ini aku datang ke sekolah.  Ketemu teman-teman guru yang lain.  Tak langsung masuk kelas ah …. Sambil nunggu bel masuk. Mending ngobrol sama teman-teman di luar kelas. Ya ngobrol apa saja, hal-hal yang ingin kita obrolkan. Lebih asyik ngomong masalah teman lain,  kepala sekolah, atau ngomongin siapa aja yang penting asyik tuk sambut pagi ini, biar suasana agak hangat … heee … heeee ….”

Kupasan paragraf di atas tentunya tidak ada dalam dunia guru di Lumajang. Kalau toh ada hanya ada di negeri Anta Brata atau negeri khayal.

Pernah Anda “ngerasani”? pastinya PERNAH. Kalau kita teliti saat kita “ngerasani” kata-kata yang kita ucapkan semakin lama semakin bersemangat, nadanya semakin menarik, lafal ucapan semakin fasih, dan mimik dari wajah kita mengalahkan pembaca puisi terkenal. Semangatnya semakin mengebu-ngebu. Anda tahu kenapa bisa begitu? Karena ada Iblis yang membuat hati dan bibir Anda semakin lupa dengan dosa akibat dari “ngerasani”.

Telingga seolah tidak bisa dilepaskan dari kata-kata sahabat kita yang sedang bergoyang lidahnya karena “ngerasani” orang lain. Seolah-olah telingga dan hati benar-benar kompak dan seirama. Anda tahu kenapa hal ini terjadi? Karena saat itu Iblis sedang meniup telingga Anda dengan kenikmatan “ngerasani”.

Tahukan Anda, beta tertawa kegirangan sang Iblis saat kita nikmat dalam dunia “ngerasani”. Mereka menarikan kemenangan disekitar orang-orang yang sedang “ngerasani”.

Hasat, hasut, rasa kecewa, amarah, dengki, dendam, mereka ramu jadi satu, dimasukkan ke dalam hati Anda melalui mata, mulut, dan telingga. Seperti orang yang sedang membakar api dalam tungku. Iblis mengencingi hati Anda hingga jadi busuk. Anda mau? Tentunya TIDAK.

Penyebab dari “ngerasani” memiliki banyak sumber. Namun yang paling utama adalah adanya rasa iri, ketidak puasan, kemampuan kita yang terbatas, atau kita merasa terkalahkan. Sumber inilah yang membuat kita ingin curhat ke orang lain. Mengajak orang lain untuk tidak suka. Mengiring orang lain benci. Menyuarakan permusuhan.

Betapa besar dampak negatif daru “ngerasani”. Kebencian akan menyebar di mana-mana. Rasa tidak puas akan menyelimuti dunia. Bibit-bibit benci akan tumbuh berlahan. Dan akhirnya permusuhan akan terwujud.

Sahabat guru … Tentunya Anda tahu sendiri kondisi di sekolah Anda. Bagai mana sahabat guru yang lain terhadap budaya “ngerasani” ini. Sangatlah tidak pantas jika seorang guru memiliki kebiasaan “ngerasani”. Untuk itu mari mulai dari diri kita, belajar berlahan tidak melakukan budaya “ngerasani”. Ingatlah detik demi detik saat kita di sekolah terhitung oleh rupiah gaji kita. Kita bekerja bukan untuk “ngerasani”, kita di sekolah betugas mendidik.

Jangan biarkan Iblis tertawa kegirangan atas kemenangannya. Jika ada teman guru yang lain sedang asik dengan “ngerasani”, segerelah menjauh karena sebenarnya di sekitar itu banyak iblis yang sedang berpesta. Jika kita mulai terbawa mencupkan kalimat “ngerasani”, segeralah minta ampun dan diamlah. Anda harus tahu, saat Anda ngerasani. Itulah kualitas jiwa Anda, kualitas orang-orang yang berhati kerdil. Anda patut ditertawakan oleh Iblis karena kebodohan Anda. Tentunya Anda tidak maukan?

“ngerasani” bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan sebuah masalah. Carilah win-win solution jika ada sebuah masalah. Jangan jadikan “ngerasani” sebagai tempat pelarian Anda, tempat melepas kepenatan Anda. Bicarakan baik-baik dengan orang yang Anda anggap sebagi masalah.

Guruku, ayo mendidik diri kita, belajar menjadi pendidikan yang sebenarnya pendidik. Semoga tulisan ini bisa mengingatkan diri saya agar selalu ingat dengan judul di atas.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. ” (QS. Al-Hujuraat:12)

Kami Tunggu Kehadiran Anda Selanjutnya”

Recent Posts :

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on April 2, 2012, in bismillah ... and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: