Pengalaman Membuat Cerdas Berbahasa

Waktu itu, saya berdiri berderet antri bersama para nasabah bank swasta yang namanya cukup terkenal di Indonesia. Meskipun lima kasir cantik bertugas melayani nasabah, tetapi  antrian tetap lumayan panjang. Mungkin karena hari ini adalah hari awal minggu (Senin) sehingga banyak nasabah yang melakukan transaksi.

Seperti biasanya, seorang wanita berpenampilan menarik, Sales Promotion Girl bank tersebut menawarkan produk baru bank pada nasabah yang baru datang. Terdengar suara lembut dan ramah SPG menyapa seorang nasabah yang baru datang.

“Selamat siang bapak, Apa bapaknya sudah memiliki kartu …? Ujar SPG itu dengan ramah.

“Bapaknya? Bapaknya siapa? Jawab nasabah itu dengan suara agak keras. Sehingga beberapa nasabah yang saat itu sedang mengantri langsung menoleh ke arah dua orang yang terlibat komunikasi.

“Ya Bapaknya”, ujar karyawati itu sambil menggerakkan tangannya menunjuk ke arah lelaki lawan komunikasinya dan berkata seramah mungkin.

“Oooo… Bapak saya? Bapak saya gak perlu kartu Mbak! Katanya dengan senyum nakalnya. Bapak saya sudah meninggal, lanjutnya diiringi derai tawanya yang nyaring.

Semua mata nasabah melihat ke arah dua orang itu dan terlihat beberapa nasabah ikut tertawa mendengar jawaban lelaki itu.

SPG yang cantik tak mau kalah, dengan tenang ia berkata, “Maksud saya apa bapaknya sudah memiliki kartu…? Kali ini ucapan karyawati dipertegas dengan gerakan verbal menunjuk pada lawan bicaranya.

Nasabah lelaki itu juga tidak mau kalah. Ia memperjelas kalimat yang telah diucapkan SPG tersebut, “ Mbak kan tadi bertanya, apa bapaknya sudah memiliki kartu …? Dan saya jawab, “Bapaknya siapa? Kalau Bapak saya, bapak saya tidak perlu kartu … karena bapak saya sudah meninggal dunia, benarkan jawaban saya? Kata sang Bapak membenarkan kalimatnya sambil diiringi derai tawa.

Manager bank yang kebetulan berada di lokasi itu, langsung mencolek lengan SPG itu sambil berkata “Kalimatmu salah!”.  “Maaf Pak, maksud SPG saya tadi adalah apakah Bapak sudah memiliki kartu …? Ujar Sang manager membetulkan kalimat SPG dengan ramah pada nasabah tersebut.

“Ya! Ya! Saya tahu maksud pembicaraan Mbak tadi, dan maaf saya sengaja menjawab seperti itu. Saya ini guru. Meski saya bukan guru bahasa Indonesia, tetapi telinga saya selalu sakit, ketika saya mendengar anak-anak mudah  menggunakan bahasa yang tidak tepat dan kesalahan itu selalu diulang-ulang. Seakan sudah mewabah. Sepertinya saat mereka bersekolah di SMA guru bahasa Indonesianya tidak mengajari mereka memilih dan menggunakan kata yang tepat,” ujar lelaki itu dengan tegas. Nampak di raut wajahnya guratan kekecewaan terhadap hasil pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Kalimat nasabah lelaki tersebut terngiang ditelinga saya seakan sebuah pukulan yang telak untuk saya, guru bahasa Indonesia. Ada rasa berdosa dan tanya berkecamuk dalam dada saya. Apakah saya sudah menjadi guru yang baik untuk anak didik saya? Apakah saya sudah mengajar anak didik saya dengan benar?

Sesampai di rumah saya buka laptop saya, dan saya periksa satu persatu materi pembelajaran yang telah saya berikan pada siswa saya. Kalimat bapak nasabah bank tersebut, menjadi motivator saya untuk menjadi guru yang lebih baik dan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat agar pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan tujuan pembelajaran yaitu bahasa sebagai sebagai alat berkomunikasi.

Kesalahan penggunaan “nya” pada kata “bapaknya” disebabkan ketidaktahuan komunikator dalam membedakan “nya” sebagai sufiks atau “nya” sebagai klitiks.

Nya” berposisi sebagai sufiks selalu dirangkaikan dibelakang kata yang diimbuhkan. Dalam bahasa Indonesia terdapat dua jenis sufiks “nya”. 1) “Nya”  sebagai kata ganti  orang ketiga tunggal yang berposisi sebagai objek atau pemilik. Contoh: Lelaki itu meninggalkan kekasih hatinya. 2) “Nya” sebagai akhiran. Contoh: Turunnya harga sembako menggembirakan hati rakyat Indonesia.
Penggunaan akhiran “nya”  untuk mendapatkan fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Untuk membentuk kata benda akhiran  “nya”  harus diimbuhkan pada beberapa kata kerja yang menyatakan keadaan atau kata sifat.  Contoh: Jatuhnya pesawat Sukhoi banyak menelan korban.
b. Untuk memberi penekanan pada bagian kalimat, akhiran “nya” harus diimbuhkan pada kata benda. Contoh: Saya ingin mandi, airnya tidak ada.
c. Untuk membentuk kata keterangan akhiran  “nya” harus diimbuhkan pada beberapa kata tertentu. Contoh : Sepertinya dia tidak datang.           

 Sebagai klitiks “nya” ber fungsi sebagai:

a. Penunjuk kepunyaan. Contoh: Rumahnya bercat putih.

b. Alat pembentuk kata benda. Contoh:  Kesalahannya selalu dibesar-besarkan.

c. Objek penderita. Contoh: Ia memandangnya tajam-tajam.

d. Objek penyerta. Contoh: Surat itu telah kukirimkan kepadanya.

 

Penulis:

Dra. I. Mufidah, M.Pd

Guru SMA Negeri 16 Surabaya

Alamat Rumah: Jl Candi Lontar Wetan 45J no 3 Surabaya

Telp (031 7412470) Hp 085648561165

Bagi Anda pembaca setia AYO MENDIDIK yang ingin tulisannya dimuat di sini silahkan saja kirim ke email  ayomendidik@yahoo.com. Berbagi tidak pernah rugi kami tunggu

 

 

Kami Tunggu Kehadiran Anda Selanjutnya”@

Recent Posts :

Iklan

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Juni 21, 2012, in bismillah ... and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. cyus miapoong enak thue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: