7 alasan kita harus mematikan televisi

7 Alasan Kita Harus

MEMATIKAN Televisi

MANAGEMENT MENATA KECERDASAN MENTAL MASYARAKAT


Saat anda membaca judul di atas, mungkin anda keheranan dan merasa judul tersebut adalah judul yang beridekan “aneh” atau bahkan anda berpendapat bahwa itu adalah ide yang “bodoh”. Okelah, sementara kami terima pendapat anda, namun andai, anda mau bersabar sebentar dan mau membaca 11 alasan berikut, dan mencoba menelaah kembali dengan hati dan fikiran yang jernih mungkin pola fikir anda akan mengalami sedikit perubahan dan pencerahan yang baru.

Di era serba ICT sekarang banyak hal yang mempermudah kita mendapatkan berjuta informasi dalam hitungan detik. Berbagai media bisa kita manfaatkan tergantung dari kemampuan kita untuk menggunakan dan memanfaatkannya. Dengan demikian kita menjadi pihak yang berperan aktif dalam pemenuhan kebutuhan informasi tersebut. Namun sebagian besar masyarakat kita masih menjadi “mangsa” informasi televisi. Baik itu melalui acara sinetron, filem, musik, iklan, acara humor, kuis, dan berbagai sajian lain yang secara tidak sadar semakin memporak porandakan setiap sudut kehidupan kita. Berikut ini 11 alasan kita harus mematikan telefisi.

1.Investasi termahal tidak terarah

I

nvetasi yang termahal bagi kehidupan kita adalah anak. Berapa banyak pengorbanan yang kita ikhlaskan untuk menata investasi yang satu ini. Mulai dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, dan pengorbanan lain yang mungkin anda sendiri sudah melupakan. Hampir semua orang tua berkeinginan putra-putrinya lebih baik dari mereka. Banyak orang tua berfikir bahwa menyediakan televisi untuk media hiburan anak. Bahkan ada pula yang berfikir dari pada anak-anak “keluyuran” mending nonton televisi. Di lain sisi ada juga orang tua yang membatasi anak untuk nonton televisi.

Beberapa alasan tersebut atau masih banyak alasan lain yang tidak bisa kami tulis di sini, merupakan “api dalam sekam” yang nantinya siap membakar seluruh tubuh buah hati kita. Apa lagi bagi putra-putri kita yang berusia di bawah 12 tahun. Mereka selalu butuh sesuatu yang konkrit. Televisi sudah cukup memberikan pembelajaran yang konkrit bagi mereka, membentuk mental yang cenderung jauh dari kepribadian yang “sehat”. Taruhlah si kecil yang usianya 4 tahun sampai 7 tahun yang paling suka dengan filem anak. Apa anda pernah menyeleksi tiap-tiap filem tersebut bahkan sampai mendampingi mereka tiap mereka menonton? Saya yakin jawabanya paling sering meninggalkan mereka dan sibuk dengan kegiatan anda sendiri. Padahal dalam filem-filem tersebut banyak unsur kekerasan, pelecehan, pornografi, dan unsur lain baik yang di sampaikan secara lisan atau gerakan dari parah tokoh di filem tersebut. Sekali lagi sadarkan bahwa pembentukan kebiasaan dimulai dari permodelan ini dan akhirnya nanti menjadi mental putra-putri anda.

2.Keluarga terlupakan

Setelah seharian bekerja pastilah waktu untuk bertemu antara suami dan istri sangat sedikit. Ketika dibutuhkah ternyata sang istri sedang asyik menikmati acara telenovela atau sinetron yang tidak tahu kapan akan tamat dari episodenya. Harusnya waktu tersebut bisa digunakan untuk membicarakan hal-hal yang ringan sampai yang berat dan tidak harus terganggu oleh acara televisi.

3.Istirahat berkurang

Saat anda nonton televisi energi yang kita gunakan lebih terkuras dari pada kita gunakan hanya untuk duduk santai. Artinya waktu istirahat anda sudah berkurang. Belum lagi saat acara yang kita tonton membuat kita tegang atau menakutkan. Darah kita akan mengalir tidak teratur dan asam laktat lebih banyak terbentuk. Hasilnya rasa pegal-pegal pada tubuh akan muncul.

4.Infonya diHIPERBOLAKAN

Saat kita melihat acara berita, penyajiannyapun sering dibuat melebihi dari kenyataan. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak jumlah penonton pada acara tersebut. Dengan berbagai hiperbolanya sehingga berita semangit panas. Bahkan masalah sepelepun terpoleskan menjadi besar. Jadi pemirsapun ikut terhipnotes olehnya. Jadi rugi sekali jika kita terbawa oleh info-info yang terlalu dihiperbolakan karena pasti fikiran kita akan ikut terbuianya.

5.Mental materialis tertanam tanpa disadari

Berbagai iklan yang ditanyangkan membuat kita semakin mengenal dan tertarik dengan berbagai barang atau jasa. Hal negatife yang muncul dari sini adalah mental materalis tertanam secara berlahan dan akhirnya berbuah konsumtif besar yang lupa dengan kondisi ekonomi sendiri. Semua ini terjadi karena tergiur dengan iklan yang ada ditelefisi.

6.Lupa dengan Ibadah

Meskipun di televisi ada acara yang bernilai positif, namun prosentase nilai negatifnya jauh lebih besar. Bahkan untuk melihat acara yang bernilai positif cenderung malas dan tidak tertarik. Berapa banyak saudara-saudara kita yang masih asik di depan televisi saat waktu ibadah harus dilaksanakan. Cenderung menunda, bahkan tidak mengerjakan ibadah sering terjadi karena takut tertinggal acara.

7.Bikin badan tidak sehat dan lebih cepat mati

Meninggal dunia di depan televisi sering terjadi. Terutama bagi penderita darah teinggi atau jantung lemah. Acara yang menengangkan dan terlalu sedih membuat mereka lepas kontrol dan akhirnya meninggal dunia. Bukan itu saja, duduk lama-lama di depan televisi juga mengganggu tulang belakang, system saraf, system pernafasan, system pencernaan, dan sirkulasi darah akhirnya badan kita menjadi tidak sehat serta bentuk tubuh tidak proposional. Yang lebih celaka lagi dengan semakin memburuknya kesehatan maka kita cenderung sakit dan lebih dekat dengan kematian.

Jika anda masih ragu dan tidak percaya dengan apa yang kami sampaikan silahkan saja anda mulai mengamati kondisi masyarakat kita sekarang. Mulailah dari masyarakat terdekat dilingkungan anda (keluarga, saudara, & lingkungan RT). Kemungkinan besar jawabanya adalah masyarakat kita sudah dijajah tapi mereka tidak sadar kalau dijajah. Semoga tulisan ini mampu merubah diri kita, masyarakat, dan bangsa kita untuk lebih baik lagi.

BAIK untuk DIBACA


Iklan

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Januari 3, 2013, in bismillah ... and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: