guru dipecat karena jujur

Guru diPECATkarena JUJUR

3S

ebut saja namanya Bapak Ahmad (nama bukan sebenarnya), salah satu teman yang baru saya kenal. Kami berkenalan saat menghadiri acara buka bersama anak yatim. Sejak saat itu kami juga sering bertemu saat sholat di salah satu masjid di kota kami. Beliau sering menjadi imam di masjid besar di kota ini. Suatu malapetaka yang membuka lebar-lebar jalan hingga beliau menjadi lebih baik, salah satunya menjadi imam karena memang suaranya dan bacaannya yang bagus layaknya al-mathrud saat membaca Al-Qur’an.

Sekitar 2 tahun yang lalu beliau aktif menjadi guru wiyata bakti di salah satu sekolah di kota kecil ini. Dengan background agama yang “bagus” beliau bukan hanya memberikan ilmu akademik saja. Tetapi dari segi akhlaq dan ibadah beliau juga menjadi tauladan yang layak di contoh. Tidak seperti kebanyakan guru yang ada sekarang, mereka kecenderungan hanya mengajar seenaknya, maksimal hanya transfer knowladge. Mereka jarang menyentuh siswanya sampai kecerdasan softskill, apalagi spiritual quation. Bagaimana mereka akan menjadi contoh, lha wong mereka sendiri tidak pernah “sholat”, atau bahkan mereka tidak layak menjadi “ing ngarso sung tuladha” bagi siswa-siswinya.


S

aat mengajar di sekolah tersebut, banyak hal yang tidak sesuai dengan kebenaran. Berbagai pembenahan beliau lakukan. Mulai dari terkecil sampai paling besar. Tiba saat malapetaka itu datang. Bertepatan Ujian Akhir Sekolah beliau tidak ikut menjaga di sekolah lain, sehingga mendapat giliran untuk tetap ada di sekolah. Setelah jam mengerjakan usai, anak-anak bergegas pulang. Betapa terkejutnya beliau saat mengetahui LJK (lembar jawaban Komputer) yang dibawa pengawas dan guru di sekolah tersebut tidak langsung disetorkan ke Kantor Dinas. Malah jawaban siswa yang salah dihapus dan diganti oleh guru kelas, pengawas ruang, dan di awasi kepala sekolah. Saat itu juga beliau mengingatkan kepada semua yang ada di ruang itu. Secara garis besar kata-kata beliau sebagaimana berikut,

“Untuk apa susah-susah mendidik mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, melakukan doa bersama orang tua, istighosah, les siang malam kalau ternyata akhirnya kita membetulkan jawaban siswanya.”

S

pontan semua yang ada di ruang tersebut terperanjat. Termasuk kepala sekolah hanya bengong melihat dan mendegarkan kata-kata rekan saya tersebut.

Singkat cerita, keesokan harinya teman saya mendapat surat dari kepala sekolah. Bukan sebuah pujian karena sudah berani mengatakan kejujuran. Namun secarik kertas yang berisi surat pemberhentian.

Demikian sepenggal kejadian dari bermilyar-milyar kejadian yang menunjukkan bahwa kebenaran itu sudah sulit di dapatkan. Kebenaran disepelekan dan diinjak-injak. Pertanyaan yang paling berat adalah “kapan mau maju pendidikan di negeri ini jika pendidiknya seperti itu?”, “Bagaimana jadinya generasi bangsa jika gurunya menanamkan ketidak jujuran?”

Atau anda ingin membaca kisah guru lain. Gimana kalau semua guru seperti pada cerita guru lain ini??!!

Mudah-mudahan juga tulisan ini di baca oleh seluruh guru, terutama kepala sekolah yang pernah memberi surat kepada tema saya tersebut!

di paste dari kejadian tahun 2010

Guru diPECATkarena JUJUR

S

ebut saja namanya Bapak Ahmad (nama bukan sebenarnya), salah satu teman yang baru saya kenal. Kami berkenalan saat menghadiri acara buka bersama anak yatim. Sejak saat itu kami juga sering bertemu saat sholat di salah satu masjid di kota kami. Beliau sering menjadi imam di masjid besar di kota ini. Suatu malapetaka yang membuka lebar-lebar jalan hingga beliau menjadi lebih baik, salah satunya menjadi imam karena memang suaranya dan bacaannya yang bagus layaknya al-mathrud saat membaca Al-Qur’an.

Sekitar 2 tahun yang lalu beliau aktif menjadi guru wiyata bakti di salah satu sekolah di kota kecil ini. Dengan background agama yang “bagus” beliau bukan hanya memberikan ilmu akademik saja. Tetapi dari segi akhlaq dan ibadah beliau juga menjadi tauladan yang layak di contoh. Tidak seperti kebanyakan guru yang ada sekarang, mereka kecenderungan hanya mengajar seenaknya, maksimal hanya transfer knowladge. Mereka jarang menyentuh siswanya sampai kecerdasan softskill, apalagi spiritual quation. Bagaimana mereka akan menjadi contoh, lha wong mereka sendiri tidak pernah “sholat”, atau bahkan mereka tidak layak menjadi “ing ngarso sung tuladha” bagi siswa-siswinya.

S

aat mengajar di sekolah tersebut, banyak hal yang tidak sesuai dengan kebenaran. Berbagai pembenahan beliau lakukan. Mulai dari terkecil sampai paling besar. Tiba saat malapetaka itu datang. Bertepatan Ujian Akhir Sekolah beliau tidak ikut menjaga di sekolah lain, sehingga mendapat giliran untuk tetap ada di sekolah. Setelah jam mengerjakan usai, anak-anak bergegas pulang. Betapa terkejutnya beliau saat mengetahui LJK (lembar jawaban Komputer) yang dibawa pengawas dan guru di sekolah tersebut tidak langsung disetorkan ke Kantor Dinas. Malah jawaban siswa yang salah dihapus dan diganti oleh guru kelas, pengawas ruang, dan di awasi kepala sekolah. Saat itu juga beliau mengingatkan kepada semua yang ada di ruang itu. Secara garis besar kata-kata beliau sebagaimana berikut,

“Untuk apa susah-susah mendidik mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, melakukan doa bersama orang tua, istighosah, les siang malam kalau ternyata akhirnya kita membetulkan jawaban siswanya.”

S

pontan semua yang ada di ruang tersebut terperanjat. Termasuk kepala sekolah hanya bengong melihat dan mendegarkan kata-kata rekan saya tersebut.

Singkat cerita, keesokan harinya teman saya mendapat surat dari kepala sekolah. Bukan sebuah pujian karena sudah berani mengatakan kejujuran. Namun secarik kertas yang berisi surat pemberhentian.

Demikian sepenggal kejadian dari bermilyar-milyar kejadian yang menunjukkan bahwa kebenaran itu sudah sulit di dapatkan. Kebenaran disepelekan dan diinjak-injak. Pertanyaan yang paling berat adalah “kapan mau maju pendidikan di negeri ini jika pendidiknya seperti itu?”, “Bagaimana jadinya generasi bangsa jika gurunya menanamkan ketidak jujuran?”

Atau anda ingin membaca kisah guru lain. Gimana kalau semua guru seperti pada cerita guru lain ini??!!

Mudah-mudahan juga tulisan ini di baca oleh seluruh guru, terutama kepala sekolah yang pernah member surat kepada tema saya tersebut!

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Maret 13, 2013, in ceritasekolah and tagged . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. banyak yang lupa/tidak paham dengan surat Almuthafifin ayat 1 sampai dengan 6 (ngakunya sih muslim)….

  2. dengan dalih menjaga kredibelitas , banyak bapak ibu guru yang mempraktekan hal itu, wajar jika bangsa ini semakin mengalami keterpurukan kepribadian …

  3. ini tidak boleh terjadi, apalagi disertai pemecatan, semoga teman anda mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan barokah, amin

  4. Ternyata saya punya teman senasib………Sy sbg guru yg gak jelas. Dari awal sekolah berdiri (th 1995), sy sudah menjadi guru tanpa SK/ surat kontrak di sekolah ini….dan saya tidak pernah mempermasalahkan hal ini karena tekat sy dari awal hanya membantu agar sekolah ini maju. Kepala sekolah mulai tidak respek ketika saya mengatakan bahwa mutu sekolah mulai menurun karena ada guru yg memberi kunci jawaban pada setiap Ulangan Akhir Semester kepada siswa2 yg les privat pada guru tsb. Ujung2nya th 2012 lalu saya dipecat dari sekolah tsb.

  5. Alhamdulillah, anak-anakku selalu mendapat nilai lumayan bagus dengan hasil sendiri. Kejujuran adalah harga mati bagi kami. Pantang nyontek. Allahu Akbar!

  6. saya sangat terkesan setelah membaca artikel anda , sungguh betapa sangat di sayangkan atas semua itu , mengapa semua serba terbalik …. semoga tuhan memberi petunjuk atas segalanya amien

  7. Kisah nyatakah itu?
    Rusaknya pendidikan kita bila itu terjadi di banyak sekolah.
    Kejujuran di setiap UN memang langka kali ya?

  8. mari minta ampun kepada yang maha jujur….dan smoga ayomendidik lahirkan generasi jujur,….ketakutan hadapi UN dah mengurat darah pada yang ber pangkat kepala

  9. Ada yang lebih targis lagi mas, ketika seorang guru menjelaskan sunnah justru dikecam oleh wali murid dan akhirnya guru tersebut juga dikeluarkan, karena statusnya juga guru WB…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: