6 ciri lomba yang baik dan jujur

ciri-ciri lomba yang baik dan jujurTentunya bagi guru kegiatan lomba adalah suatu hal yang pasti dialami. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung maksudnya guru langsung melakukan kegiatan lomba semisal ikut lomba guru prestasi, lomba guru mengajar, lomba puisi, lomba mendongeng, dan kegiatan lomba yang lain. Secara tidak langsung misalnya mendampingi siswa yang mengikuti lomba, semisal lomba olimpiade mipa, lomba minat bakat dan kreatifitas siswa, dan berbagai lomba yang lain.

Dari berbagai bentuk lomba tentunya kita bisa menilai pelaksanaan lomba hingga cara pengumuman lomba tersebut. Berikut ini 6 hal yang ada pada lomba yang baik dan jujur.

 1.   KETENTUAN LOMBA JELAS DAN UMUM

Setiap lomba harus memiliki aturan yang jelas, hal ini penting bagi pembina dan peserta untuk mengatur program pembinaan. Kentuan lomba harus diinformasikan sedini mungkin agar setiap peserta memiliki pemahaman yang sama. Selain itu ketentuan lomba harus dijalankan dan dipatuhi oleh panitia dan peserta.

 2.   TIM JURI BUKAN PEMBINA

Juri merupakan penentu kejuaraan. Juri harus betul-betul faham tentang lomba yang akan dinilai. Jadi juri tidak asal ambil saja.

Selain harus menguasai bidang yang dinilai juri harus ADIL. Tidak memihak kepada siapapun. Untuk mejadi juri yang obyektif maka diperlukan juri yang bukan pembina dari peserta yang sedang ikut lomba. Apa lagi lombanya bersifat subyektifitas semisal lomba minat bakat dan kreatifitas siswa.

Diusahakan juri berasal dari pihak independent yang tidak mengikuti lomba. Hal ini akan membut peserta dan pembina lebih bisa menerima hasil lomba. Sangat disayangkan jika masih ada lomba dengan juri yang berasal dari satu instasi/kecamatan padahal pesertanya juga ada yang dari instasi atau kecamatan tersebut. Semisal lomba Guru Prestasi SD tahun 2012 kemarin, di mana tim juri dari 3 juri 2 berasal dari 1 kecamatan.

 3.   SOAL, KUNCI JAWABAN, dan JAWABAN DIBAGIKAN USAI LOMBA

Jika lombanya dalam bidang akademik, misalkan lomba mata pelajaran. Maka tim pembuat soal berasal dari tim independent. Misalkan lomba tingkat SD, maka soal bisa dibuat oleh lembaga SMP, SMA, atau Perguruan Tinggi yang bisa dipercaya.

Soal tidak tinggal comot dari buku atau internet, namun soal harus benar-benar murni hasil karya dari tim pembuat soal. Kalaupun diambil dari buku atau diinternet paling tidak ada proses editing soal.

Selesai lomba alangkah baiknya soal langsung diberikan kepada peserta agar dipelajari untuk peningkatan kualitas. Lomba yang baik bukan sekedar kompetisi meraih juara, namun mampu menjadi ajang perbaikan cara belajar.

Kunci Jawaban dan jawaban siswa sebaiknya diberikan kepada siswa hal ini sebagai bentuk pertanggung jawaban paniti dengan kemurnian hasil lomba. Dengan demikian tidak ada pihak yang dirugikan.

Semisal lomba Olimpiade Sains Nasional di tingkat propinsi. Setelah siswa mengerjakan maka malam harinya semua jawaban siswa diberikan kepada pembina untuk dikoreksi oleh pembina dan diadakan moderasi dengan tim juri. Jika ada kesalahan ngoreksi maka bisa diperbaiki.

 4.   PENGUMUMAN HASIL TIDAK TERLALU LAMA

Menjadi hal yang Aneh, dijaman yang sudah canggih ini masih ada lomba dengan peserta tidak begitu banyak namun pengumumanya masih menunggu 1 hari atau bahkan berhari-hari. Bahkan lomba setingkat kecamatanpun masih ada yang proses pengumumannya tidak secara langsung.

Lomba yang baik memiliki tim yang siap mengumumkan hasil lomba hanya dalam hitungan jam. Hal ini pernah juga dilakukan oleh salah satu SMP di lumajang, dengan peserta 1000 lebih mampu mengumumkan 2,5 jam kemudian, HEBAT bukan?

Bukankah sudah ada komputer yang mampu menjumlah, mengali, dan membagi secepat kilat? Kenapa masih pakai kalkulator apalagi hitung manual?

 5.   TIDAK ADA PERTIMBANGAN

Ketentuan lomba sudah dibuat, artinya jalannya lomba sudah ada peraturan yang mengatur. Jadi dalam penentuan juara juga sudah tidak ada pertimbangan baru. Jika hal ini dilakukan oleh panitia maka sangat merugikan bagi peserta

 6.   ADA HADIAH BAGI JUARA

Saat akan mengikuti lomba tentunya ada persiapan bagi peserta. Tidak hanya tenaga namun biaya juga pastinya tercurahkan. Panitia yang baik tentunya bisa menghargai peserta dengan memberikan hadiah. Hadiah bisa diwujudkan dengan berbagai bentuk, misalkan trophy, uang pembinaan, piagam, atau bisa yang lainnya.

Sangat disayangkan jika dibeberapa kecamatan masih ada lomba yang tidak memberikan reward kepada pesertanya. Padahal untuk rekreasi kepala sekolah ke Jakarta mampu, hanya memberi reward bagi juara tidak mampu, aneh bukan?

Semoga pendidikan lumajang lebih baik. (ayomendidik)

tulisan ini juga dimuat di majalah suara pgri edisi Mei 2013

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Mei 12, 2013, in KEGURUAN and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Tambah lagi pengetahuan,Tank’s ats infonya, ….Sukses!

  2. Tujuan lomba adalah untuk mengukur kemampuan, bukan hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia yang paling hebat dan “wah’ saja. Apa lagi lomba di bidang pendidikan, harus ada unsur mendidiknya, baik baik peserta maupun bagi penyelenggara. Maka, kejujuran adalah yang utama, biarlah apa adanya… yang memang hebat biarlah menjadi juara. Saya setuju dengan tulisan ini, bravo jujur…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: