guru harus enaktif

guru harus enaktif ayo mendidikDialog kami dengan 2 anak yang belajar di rumah (les) membuat saya bersegera ingin menulis di sini.

Saya mencoba agar dua siswa ini menjelaskan secara nyata . (alat peraga : kertas dan gunting). Bagaimana operasi 1 : 2 bisa sama dengan ½ (0,5) dan 1 : ½ bisa sama dengan 2. Keduanya saya suruh kerja sama untuk menyelesaikan. Hasilnya hampir 30 menit belum bisa menjelaskan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

suasana belajar di rumah, membangun pemahaman bermakna untuk belajar matematika

suasana belajar di rumah, membangun pemahaman bermakna untuk belajar matematika

Panggil saja namanya Hakim dan Hana. Hakim sudah kelas 6, sekolah di MI termaju di kota ini. Hanna kelas 4, juga sekolah di Sekolah Dasar Islam Fullday School. Kedua anak ini, meskipun sekolah di SD Favorit. Ternyata tidak lepas dari bibit guru yang menyebabkan kangker matematika. Apa lagi sekolah pinggiran seperti saya mengajar.

Pembelajaran yang tidak sesuai dengan pesikologi perkembanga kongnitif siswa. Ujung-ujungnya akan membuat siswa jenuh, kapok, dan malas dalam belajar. Bemban berat seolah terus menindih hingga ia serasa tidak bias bangkit lagi. Ketika ada pertannyaan “Siapa yang tidak suka matematika?” Serentak siswa banyak yang angkat tangan.

Hampir sebagian besar guru kita mengajarkan matematika di Sekolah Dasar langsung pada tahap simbolik (termasuk saya heeee …., sejak 2010 sudah berusaha berubah … guraru nih). Tahap simbolik adalah tahap imaginer bagi siswa, mereka harus membayangkan apa yang mereka pelajari. Di lain sisi perkebangan kognitif siswa SD harusnya real (nyata), cenderung menggunakan seluruh panca indra agar proses penanaman pada pola berfikirnya maksimal.

Sesuai dengan teori belajar Jerome S. Bruner menyatakan cara menyajikan pelajaran harus disesuaikan dengan derajat berpikir anak dan membagi tahap-tahap perkembangan kognitif anak dalam tiga tahap yaitu tahap enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik.

  1. Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitar, artinya dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.
  2. Tahap Ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar atau visualisasi verbal. Maksudnya dalam memhami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
  3. Tahap Simbolik, seseorang telah mampu memilki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol bahasa, logika, matematika dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak sistem simbol. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya. Meskipun begitu tidak berarti ia tidak lagi menggunakan sistem enaktif dan ikonik. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu bukti masih diperlukannnya sistem enaktif dan ikonik dalam proses belajar.
  4. siswa dituntun mencari (menenumukan) pemahaman terhadap suatu materi dengan belajar nyata

    siswa dituntun mencari (menenumukan) pemahaman terhadap suatu materi dengan belajar nyata

Jadi, jika siswa ingin mencintai matematika dan suka belajar matematika. Guru harus berusaha melakukan tahap-tahap teori belajar Burner tersebut dalam setiap pembelajaran. Mencari solusi terbaik bagaimana siswa bisa belajar enaktif.

Jika Anda belum Enaktif, Ekonik, dan Simbolik dalam belajar. Jangan anggap dirinya guru yang AYO MENDIDIK deh …. heeeeee …. 🙂 🙂

ANIMASI AYO MENDIDIK DINAS TERKAIT

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on November 13, 2013, in teori belajar and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: