aku tak pernah memaksa muridku berjilbab

ini hasil kerja kami, ada yang tertarik nampak mila siti dan rohma menunjukkan hasilnyaTahun 2009 gelar CPNS aku dapatkan. Bersamaan dengan itu saya memasuki sekolah baru, sekolah yang berbeda 1800 dengan sekolah sebelumnya.  4 tahun sebelumnya  berstatus GTY di sekolah yang berbasis Islam (full day school full day education). Jabatan wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan membuat saya banyak dekat dengan siswa. Karena memang sekolah Islam, saya benar-benar KENCANG memegang peraturan berjilbab.

Tak heran jika siswa lari bersembunyi jika bertemu saya tanpa berjilbab saat ada di luar sekolah. Termasuk juga guru-gurunya heeeee (rahasia ya)

 Sekali lagi berbeda dengan sekolah negeri yang Allah hadiahkan tempat tugas pertama sebagai CPNS. Tahun 2009 tidak ada satupun siswi yang berjilbab. Stimulus pertama saya mengajak istri untuk main ke sekolah. Alhamdulillah bidadariku berjilbab insyallah sesuai sunnah. Siswa-siswiku mulai bertanya-tanya. Wali murid pun mulai melirik (dikira golongannya Amroji ….. ) karena sesuai sunnah hijabnya berwarna hitam. Dalam hatiku, biarlah semua mengalir …… pendidikan
tidak menuai benih pada dirimu”

Tahun berikutnya saya memegang kelas 5, waktu itu sedih melihat anak-anak kelas 5 dan 6 yang sudah mulai pubertas memakai baju yang kelihatan lututnya. Saya cuman menyentuhnya diselah-selah pelajaran banyak manfaat menutup bagian tubuh yang bawah salah satunya biar bersih, jika duduk tidak repot untuk menutup, dan juga kelihatan lebih terhormat. Ya akhirnya satu, dua, tiga banyak anak yang pakai rok panjang sampai ke mata kaki.

Cobaan pun datang, salah satu siswiku protes habis-habisan. Dua point yang dia ucapkan, jika pakai bawahan panjang mereka tidak mampu karena banyak yang miskin dan yang kedua repot jika sedang olah raga. Ya aku terima dengan baik usulan anak kecil itu. Cuman saya sempat kaget anak sekecil itu mampu berbicara selantang dan sefokus itu. Akhirnya beberapa bulan kemudian aku ingin mengajak istri berkunjung ke rumah siswaku paling miskin. Dia tinggal bersama adiknya tanpa ada orang tua, karena orang tuanya kerja di negeri seberang. Siswa  laki-laki termiskin curhat masalah demo itu yang tak lain sudah di atur oleh salah satu guru yang tidak setuju jika siswi pakai bawahan panjang. Guru itu masuk saat saya ijin tidak ke sekolah. Dalam hatiku, biarlah semua mengalir ….. “tapi membuat benihmu tumbuh dan berkembang”

foto beberapa siswa berjilbab, bisa juga Anda lihat pada posting sebelumnya

foto beberapa siswa berjilbab, bisa juga Anda lihat pada posting sebelumnya

Akhirnya kebaikkan itu tetap berdiri kokoh, anak-anak semakin banyak yang memakai bawahan panjang. Aku cuman memuji jika ada siswa baru memakai terusan panjang, “wah tambah anggun ya”. Selang beberapa bulan kemudian  salah satu siswi bertanya “bolehkan memakai jilbab?”. Akupun tersenyum …. ”tanyakan pada guru agama saja?”.

Pertemua wali murid juga waktu yang efektif untuk berbagi missi yang sama. Berbekal ilmu hypno apa adanya, orang tua pasti menangis saat pulang pertemuan. Sengaja kami sentuh hatinya agar mereka mau mendokan anaknya.

Yap akhirnya satu, dua, tiga dan 4 tahun sekarang anak-anak hampir 100% kelas 4, 5, dan 6 sudah memakai jilbab … “Allahuakbar ….”

Tidak itu saja, siswa kami jika mengetahui temannya memakai celana pendek atau hal lain yang tidak baik saat di luar jam sekolah. Hp pasti berdering mendapat sms dari mereka untuk memberi kabar bahwa si fulan memakai celan pendek, si fulan merokok, si fulan …….

Pendidikan itu proses panjang dan  kita tidak tahu sampai kapan benih itu akan tumbuh dan berkembang ….. jika sahabat AYO MENDIDIK melihat beberapa siswi kami memakai jilbab tapi masih memakai lengan pendek atau tidak menggunakan menset. Hal  itu karena faktor money dan sebagian faktor pemahaman agama keluarga yang masih belum kaffah …. mudah-mudahan Allah memberikan hidayah agar mereka 1, 2, atau 10 tahun mendatang memakai cadar …..

amiin barokallohufiikum.

tulisan ini diikutkan lomba guru berahlak 

Lomba Menulis Artikel
ANIMASI AYO MENDIDIK DINAS TERKAIT

http://www.sekolah-akhlak.com/2014/01/lomba-menulis-artikel-untuk-blogger-dan.html

http://guru-berakhlak.blogspot.com/2014/01/lomba-menulis-artikel-untuk-blogger-dan.html

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Januari 25, 2014, in ceritasekolah and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Pelan-pelan tapi pasti, pemberian pemahaman bertahap membuahkan hasil yang kita harapkan. Mengukir di atas batu akan melekat selama-lamanya, mengukir di atas air akan lenyap seketika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: