alhamdulillah, jadi guru seru pt. acer indonesia

Awalnya Beliau tidak berniat maupun berminat menjadi seorang guru, namun dikarenakan faktor ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan menjadikan Beliau berusaha keras untuk menyekolahkan dirinya bahkan menghidupi dirinya. Semangatnya tidak pernah surut, pahit dan getir dilaluinya dengan tabah dan sukarela. Bahkan rela digaji yang jauh dari kata cukup.

Sampai akhir Pak Mohammad Subakri memilih berkarir sebagai seorang guru Sekolah Dasar di SDN Jambekumbu 01 Kabupaten Lumajang.

Untuk mengenal lebih jauh dengan Pak Guru yang satu ini, silakan berkomunikasi melalui facebook https://www.facebook.com/ayo.mendidik, rupa-rupa perjalanan Beliau dan apa saja yang Beliau ajarkan kepada siswa-siswa di kelas dapat dibaca pada blognya : ayomendidik.wordpress.com  dan bchree.wordpress.com
Mari kita simak perjalanan dan perjuangan guru yang rajin disapa Pak Bakri ini dalam tulisan berikut dalam bentuk bertutur.

Awal Perjalanan

Lulus SMA favorit di kotaku bukan jaminan bisa masuk perguruan tinggi. Waktu itu, saya ingin sekali kuliah di kedokteran. Namun ayah tidak sanggup karena faktor ekonomi. Tahun 1997 akhirnya saya pergi ke Surabaya bekerja di salah satu warung makan di seputaran Universitas Airlangga Surabaya. Setahun di sana dengan harapan pulang membawa uang untuk tambahan orang tua sebagai modal kuliah.
Ekonomi keluarga tetap seperti dulu, ayah memutuskan tetap tidak sanggup menguliahkan. Akhirnya saya memutuskan bekerja di Lumajang di salah satu perusahaan mebel. 2 tahun bekerja di sana dengan gaji mingguan yang amat murah membuat saya ingin mengubah nasib. Tabungan yang tersisa saya gunakan sebagai modal daftar kuliah di salah satu universitas swasta di kota Pisang ini.

Berhenti dari perusahaan mebel dan melamar menjadi guru honorer di SD Negeri Karanganom 01. Beliau Bp. JM Sartono kepala SDN Karanganom 01 saat itu berkata, “Kami memang butuh guru, kalau mau silahkan hari Senin datang ke sini, kami sanggup memberi Rp50.000,00 per bulan”. Ya, hari sabtu awal tahun 2001 saya keliling mencari sekolah yang bisa menerima sebagai guru honorer dengan modal ijazah SMA.

Ingin dapat gaji lebih dari itu, usai mendaftar dari sekolah tersebut aku mencoba pindah melamar ke sekolah lain di desa sebelah. Ya Nasib, di lembaga ini aku tidak disuruh masuk, menunggu lama di luar ruangan, tiba-tiba ada suara dari dalam, “Kami tidak butuh guru yang lulusan SMA, kalau SMA ya harusnya jadi penjaga koperasi!”. Tak ada jalan lain, Senin dengan baju hitam putih aku menuju SDN Karanganom 1 untuk menjadi calon guru di sana.

Bapak Sartono adalah kepala sekolah SDN Karanganom 1 yang tiga tahun lagi akan memasuki masa purnatugas, kemudian mengajakku menuju ke sebuah kelas. Tidak lebih lima menit Beliau menunjukkan cara mengajar, kemudian mengatakan, “Ini kelas 4, mulai sekarang silakan anak-anak ini dididik dengan baik!”. Beliau meninggalkanku dalam kondisi gemetaran di depan anak-anak berbaju merah putih.

Mengajar sehari, Menginspirasi seumur hidup

Tak disangka Aku telah menjadi guru honorer selama empat  tahun di sekolah itu,  empat tahun selanjutnya aku bekerja di sebuah sekolah swasta yang kemudian membuat ku tersadar, bahwa Allah menakdirkan Aku untuk menjadi guru. Guru bukan pekerjaan biasa, guru adalah pekerjaan paling berat dari seluruh pekerjaan, karena profesi ini sebenarnya tidak sekedar menuntut agar anak didik menjadi baik, namun sebaliknya menuntut guru itu sendiri untuk mendidik diri dan keluarganya agar layak menjadi guru.
Ada kode etik manusia SEMPURNA yang harus diemban meski sebenarnya kita sendiri tahu KITA TIDAK SEMPURNA.

Jargon yang paling mengikat dan membuat sanubariku mantap sebagai guru adalah  “Mengajar sehari, Menginspirasi seumur hidup“. Kalimat ini sangat menginspirasi diri saya untuk selalu berharap dan bisa memberikan satu benih kebaikan setiap harinya. Keinginan membuat murid-murid pulang dengan tersenyum karena merasa lebih baik adalah target saya tiap hari. Benih-benih itu aku harapkan akan tumbuh dan berkembang dikemudian hari, berharap pula kembang itu menghasilkan benih untuk kebaikan orang lain yang lebih banyak. Dan suatu saat ada komunitas orang-orang baik dari inspirasi benih-benih tiap hari yang sudah aku tanamkan di hati dan jiwa muridku untuk menjalankan hidup yang lebih baik.

Belajar akan menjadi berhasil dan sukses saat siswa menikmatinya. Agar siswa bisa menikmatinya, kuncinya adalah kedekatan antara guru dan siswa. Membangun keakraban, taburan senyum, dan saling percaya adalah modal menciptakan suasana belajar yang menakjubkan. Meski di suatu waktu juga butuh mata melotot, suara keras, dan teriakan. Namun semua itu adalah pembelajaran agar mereka juga bisa disiplin dan bertanggung jawab selama tidak membekas di fisik dan hati.

Ketertarikan Mengajar dengan bantuan TIK

Dulunya saya berpikir menggunakan komputer itu harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris, akhirnya saya memutuskan tidak mengikuti Les Konputer yang diadakan di sekolah saat itu. Karena fobia yang satu ini. Ternyata dugaan saya keliru, karena saat pelajaran yang dilaksanakan sore hari itu saya ikuti karena penasaran malahan membuat saya betah dan cenderung tergila-gila hampir tidak mau pulang karena keranjingan belajar menguasai program komputer seperti DOS, WS, Lotus, dan seterusnya. Bahkan saya dimarahi karena sering masuk Laboratorium yang bukan jadwal untuk les komputer!

 Saat jadi guru honorer di SDN Jambekumbu 01, sekolah dapat komputer seken dari hasil penjualan LKS. Karena, hampir semua tidak ada yang berminat mengoperasikan komputer tersebut, maka saya memberanikan diri menggunakannya berbekal pengalaman masa lalu yang sepertinya sudah berkarat.
Setelah saya sadari bahwa komputer itu rusak, maka tidak ada jalan lain selain bergaul habis dengan warnet.  Ada pengalaman yang lucu sekaligus menyedihkan saat saya menggunakan komputer karena setelah memakainya  langsung power komputer langsung saya matikan, alhasil penjaga warnet pun murka, “kalau begini cara mematikan ya hancur komputer saya mas!”.

Rasa kesal tak terima mendera hatiku, namun aku tidak mau  terpuruk dengan kata-kata penjaga warnet. Hingga saat ramadhan dan sekolah libur selama sebulan. Komputer sekolah saya bawa ke rumah, kuatir dengan keamanan sekolah yang tidak menjamin. Selama ramadhan itulah aku membuka pelajaran komputer bagi siswa smp, sma, dan teman-teman guru yang mau belajar. Padahal saat itu aku juga belum terlalu mahir, ya akhirnya sambil mengajar juga sambil belajar.  Selain memberi pelajaran komputer, aku juga memberi pelajaran Les Sempoa,  dan menjual jasa pengetikan dengan komputer,  Alhamdulillah dari usaha in aku bisa menambah penghasilan dan bisa membiayai kuliah di perguruan tinggi swasta di kota kecilku ini.

Literasi TIK ala Pak Bakri

Sebenarnya di sekolah kami masih taraf  mempersiapkan guru-guru yang kemampuan menggunakan komputer masih pemula. Alhamdulillah,  sekarang hampir seluruh guru di tempat saya mengajar sudah memiliki laptop.
Namun untuk menggunakannya di kelas masih belum maksimal.

Dengan minimnya fasilitas komputer dan perangkat teknologi informasi serta keterbatasan geografis menyebabkan pemanfaatan TIK belum maksimal digunakan. Yang paling sering saya lakukan dengan menunjukkan gambar dan video dengan bantuan proyektor atau layar monitor.

Alat-alat bantu yang sering saya gunakan antara lain untuk presentasi dan membuat animasi video, terkadang saya menggunakan lembar kerja Excel untuk menilai dan menganalisis hasil ulangan murid-murid.

Yang selalu membuat saya bergembira menggunakan TIK dalam pelajaran saya adalah keceriaan murid-murid setiap kali saya menampilkan tayangan dengan LCD Proyektor, sering kali mereka bahkan menunda pulang ke rumah karena tidak sabar dan sangat penasaran untuk belajar yang baru dengan media yang saya sediakan.

Bagi saya, mengajar di SD yang berada di balik bukit ini dengan perjalanan yang membutuhkan perjuangan maksimal disertai ketersediaan sarana pembelajaran modern yang minim, belajar menggunakan TIK sangat membantu walaupun nilainya masih kecil dibandingkan fasilitas sekolah lain di kota-kota besar. Tetapi saya tidak kecil hati, karena semangat menggunakan TIK ibarat menanam benih sehari demi sehari dan menantikan inspirasi seumur hidup bagi murid-murid saya.

Kecepatan tanggapan mereka dalam belajar pun terbantu dengan alat media ini. Anak-anak bisa lebih cepat mendapat informasi, lebih mudah memahami suatu materi pelajaran, lebih mudah mencari referensi, belajar menjadi lebih bervariasi. Tentu saja akibatnya, guru harus siap sedia mempersiapkan bahan-bahan tersebut.

Pesan Pak Bakri

Untuk guru-guru terutama guru SD, TIK sangatlah perlu dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas mengajar, namun jangan juga terlalu fokus ke arah TIK melulu,  karena berdasarkan tingkat abstraksi murid-murid  SD, mereka memerlukan sesuatu realita yang konkret dan nyata secara langsung yang dapat dikecap dengan pancaindra sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Pembelajaran menggunakan Teknologi Informasi menghadirkan nuansa baru bagi murid-murid kita dan kegiatan kelas. Karena itu wajib bagi semua guru untuk terus mengikuti perkembangan IT.

Kegiatan Luaran
Beliau aktif menulis di Majalah PGRI yang dikelola oleh PGRI Kabupaten Lumajang.

oleh : pengelola www. guraru.org 2014

Anda bisa lihat juga lihat link aslinya dengan klik di sini.  ayo segera bergabung dengan GURU ERA BARU 🙂

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Maret 14, 2014, in Prestasi guru and tagged , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. bener sekali memanfaatkan TIK pun tidak boleh keseringan, murid tetap harus dikenalkan dengan lingkungan nyata

  2. Sosok yang sangat inspiratif

  3. Perjalanan hidup yang sangat menginspirasi. Selalu positive thingking dan positive action. Sukses Pak Bakri

  1. Ping-balik: PEMILIHAN ARTIKEL TERBAIK GURARU ORG • Guraru

  2. Ping-balik: pemilihan tulisan terbaik tiap bulan guraru dot org | ayo mendidik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: