tak jadi ku tampar muridku

tak jadi ku tampar muridkuTak ada darah militer dalam nadiku, tidak pula golongan polisi, apa lagi keluarga TNI. Namun melihat siswa yang berpakaian tak rapi membuat aku risih dan darah seolah mendidih. Bisa juga hal ini karena didikan ibuku, ibu desa yang selalu memasukkan bajuku setiap aku berangkat sekolah di SD dulu, meminyaki rambut dengan minyak murahan, dan menyisirnya rapi model jadul kata anak sekarang. Tidak cukup itu saja, ibu selalu meminyaki tangan dan kakiku dengan handbody yang sekarang sudah tidak ada lagi di toko apa lagi indomart.

Panggil  saja namanya Icang, siswa yang seharusnya sudah duduk dibangku kelas 9 masih juga bertengger di kursi pojok depan kelas 6 sekarang. Rambutnya kumal, wajahnya tak sedap dipandang, ditambah lagi lubang kecil di salah satu telingganya bukti dia anak yang benar-benar makan hati gurunya.

Teriakan dan celotehnya bernuansa jorok, tertawanya juga urakan, belum lagi lagu-lagu yang ia lantunkan bak artis dangdut koplo yang sering dia dengar di rumah dan tetanggnya.

Tiba di suasana matahari yang cukup menusuk bumi, bel istirahat terakhir sudah berbunyi. Satu persatu siswa masuk kelas. Ya, Icang sudah seperti biasanya, sambil tak peduli sekitar dia masuk ruang dengan baju putih yang dia biarkan keluar dari jelana pendek merahnya. Tak ada perasaaan bersalah di air mukanya. Melihat itu hatiku berdenyut keras, tiba-tiba muncul perasaan tidak dihargai oleh sikap siswa tersebut. Akhirnya, “Icaaaaaaaaaang, sini kamu!” dengan mata sedikit melotot.

Tangan ini tak tahan rasanya, gataaaaal ingin melayangkan tepat di pipih siswa ini. Atau kujiwit sekuat-kuatnya agar dia meronta-ronta kesakitan dan berharap sadar dengan perbuatannya. Wajahnya mulai pucat saat dia tepat di mukaku, perasaan takut mulai jelas di bola matanya. Nampak pasrah dan siap menerima hukuman yang akan aku berikan padanya.

Angin itu berhebus melalui daun pintu kelas menembus masuk hingga menyibak baju putih bagian bawah icang yang sudah lusuh dan kecoklatan. Mataku melihatnya, ya …. resleting miliknya sudah tidak bersatu lagi. Kancingnya juga porak poranda dimakan waktu. Ketemu sudah jawaban kenapa ia tak memasukkan bajunya ke dalam celana pendeknya.

Wajahku berubah, aku tak tahan menahan rasa ingin tertawa, aku meluapkan hal itu di depan wajahnya yang sudah mulai pucat pasi. “Ma’af, betulkan reslteingmu nanti di rumah, agar engkau aman memasukkan bajumu”. Ia menganggukkan kepala.

Mulai saat itu, aku mencoba untuk berkata sopan, memberikan tugas agar dia lebih percaya diri, serta selalu menyapanya dengan baik. Duduknya di depan, salah satu upaya agar dia bisa aku perhatikan lebih.

Memang tak semudah tulisan ini diketik, sekarang lubang ditelingganya sudah tertutup, rambutnya sudah mulai rapi, kosentrasi belajarnya juga sudah lumayan. Andaikan saat itu aku tampar dia …..??

Iklan

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Maret 24, 2014, in cerita siswaku and tagged , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. Blognya Keren dan Inspiratif Pak Bakri

    Blogwalking Web Kimia SMK Asyik
    Di
    http://www.trigpss.com/

  2. Sungguh bukan suatu slogan apalagi dianggap anekdot, gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”…sulit untuk diungkapkan dengan kata, apa yang dirasakan seorang guru terhadap anak didiknya. . . melihat mereka kelak, menjadi “bintang” yang melupakan “cahaya” yang telah menyinarinya . . .Amin ya robbal’alamin . . . Selamat berjuang, pak! Mataku berkaca-kaca membaca tulisan anda, indah . . . sungguh indah!!! Bila saja setiap pendidik kita bisa seperti anda . . .

  3. Ada-ada saja Pak Bakri, dulu Rektor bayangan, sekarang tidak lagi. Maksud komentar di atas, kita semua, terutama guru jangan mengambil kesimpulan sesaat atau melihat luarnya saja, tetapi kita cari akar permasalahannya untuk kita berikan solusi. Kita diingatkan pada kriteria guru : memberikan contoh yang baik/berkata sopan, memberikan tugas/latihan untuk keterampilan, menumbuhkan rasa percaya diri, menghargai orang lain/menyapa dengan baik, memberikan perhatian lebih apabila berperilaku tidak seperti biasanya, dan masih banyak kriteria guru lainnya yang semuanya menuju pembentukkan insan yang dewasa dalam semua aspek. Terima kasih kepada Bapak/Ibu Orang Tua kita, Bapak/Ibu Guru, Bapak/Ibu Tata Usaha, Bapak/Ibu Karyawan, Bapak/Ibu Dosen, Bapak/Ibu Pemimpin Bangsa, termasuk Bapa/Ibu Guru Mengaji. Semoga amal baik Bapak/Ibu mendapat pahala dari Allah SWT. Amin.

  4. Pesan moralnya pada paragraf ” Mulai saat itu, aku mencoba untuk berkata sopan, memberikan tugas agar dia lebih percaya diri, serta selalu menyapanya dengan baik. Duduknya di depan, salah satu upaya agar dia bisa aku perhatikan lebih.” Inspirasi untuk kita semua. terima kasih, Pak Bakri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: