teriakkan kemerdekaan guru

bendera mera putihSosok Bu Mus dalam Laskar Pelangi merupakan tokoh guru perempuan yang abadi bagi kehidupan siswa dan masyarakat saat itu. Hidupnya 100% diabadikan untuk sekolah miskin yang sangat berharap mendapat 10 siswa agar sekolah tetap bisa berlangsung. Sekolah yang mengedepankan ahlak dalam kurikulumnya sesuai dengan pernyataan Kepala Sekolah Muhammadiyah Blitong saat didatangi sahabatnya.

Setiap lembaga pastinya membutuhkan dana untuk roda pendidikan terus berlangsung. Apa lagi saat itu dana BOS belum ada. Dana dari wali murid juga tidak bisa diharapkan, mengingat sebagian besar yang sekolah di sana adalah anak-anak orang miskin. Kondisi ini tidak membuat Bu Mus berkecil hati, apa lagi menyerah dan berganti arah meninggalkan sekolah. Separuh harinya dia gunakan untuk bekerja menjadi penjahit untuk menyambung hidupnya. Jika ada sisa uang, pasti dikucurkan ke sekolah dan siswa yang dia cintai.

Hari demi hari ia lalui bersama anak-anak kelas kumuh. Setahun dua tahun, dan akhirnya seluruh siswa sudah duduk di kelas VI. Prestasi gemilang mereka dapatkan saat mengalahkan sekolah ternama dan terkaya saat lomba cerdas-cermat. Keikhlasan Bu Mus tidak diganjar oleh Allah sampai di situ saja. Setelah 25 tahun, murid-murid dekil itu ada yang bisa kuliah di Paris, dan kebanyakan mereka menjadi orang yang sukses. Hingga nama Bu Mus terkenal gara-gara Novel Laskar Pelangi diangkat di layar lebar yang memikat dan menyentuh hati seluruh pelosok negeri ini.  Sebuah balasan yang begitu anggun dipersembahkan oleh Allah sebelum balasan yang lebih nikmat diakhirat bagi guru-guru yang bekerja dengan sepenuh fisik, hati, dan jiwa mereka.

Kita beralih ke dunia modern saat ini. Pergantian kurikulum terus digencarkan oleh pemerintah untuk mencari lubang yang pas bagi tertancapnya keberhasilan pendidikan yang signifikan. Pendanaanpun kini juga mengalami metamorphosis menjadi dana BOS yang dibagi menjadi berbagai model dana BOS. Belum cukup sampai disitu. Pemerintah terus berorasi untuk meningkat pendidikan di negeri ini. Sertifikasi adalah senjata terakhir di masa ini sebagai ujung tajam pemerintah agar bisa menebas lambatnya laju pendidikan di negeri tercinta.

Ah, ternyata sertifikasi menjadi hal yang ANEH bagi pendidikan di negeri ini. Sebagian besar guru-guru kita dengan adanya dana sertifikasi tidak membuat mereka menjadi Bu Mus dilaskar pelangi.

Propaganda untuk mendapatkan sertifikasi begitu getolnya. Berbagai cara dilakukan, kuliah untuk mendapat gelar S1 bukan mencari ilmu, namun untuk medapat tiket lulus persyaratan sertifikasi. Sudah banyak kelas-kelas kosong saat guru-guru sibuk pemberkasan sertifikasi. Dan banyak lagi adegan negatife yang lain.

Setelah semua ini didapat, dana sudah di saku. Sebagian besar guru kita malah memperbaiki penampilan fisik saja. Bersolek ria, berganti motor, mobil baru, rumah baru, dan yang lebih menakutkan tingkat perceraian juga banyak.

Dapodik muncul. Guru-guru kita mulai gusar, karena ada aturan baru bagi guru sertifikasi. Kelas mereka harus berisi 20 siswa. Banyak guru-guru tidak beruntung karena peraturan ini, karena sekolah mereka sekolah pinggiran dengan jumlah siswa kurang dari 20 siswa. Mereka hanya bisa menjerit dalam hati, “Saya juga tidak minta ditempatkan di sekolah dengan jumlah siswa kurang dari 20!”. Kalau Bu Mus butuh 10 siswa agar sekolah bisa diakui, sekarang tiap guru berharap 20 siswa agar gaji sertifikasi bisa cair.

Sertifikasi tambah mencekik kita, “bagi guru yang tidak masuk maksimal 3 kali tatap muka maka dana sertifikasi tidak bisa dicairkan”. Pernyataan pimpinan yang beliau peroleh dari rapat. Sebuah kebijakkan yang juga memojokkan guru, tak lihat apa alasan mereka tidak  masuk yang penting sertifikasi tidak bisa cair. Semua ini bagai hantu siang bolong bagi guru-guru yang sudah menjadikan sertifikasi agenda nadi perekonomian bulanan mereka. Ujung-ujungnya proses belajar mengajar jadi korbannya.

Ah, belum lagi gejolak dengan adanya kurikulum baru yang membuat beberapa mata pelajaran harus di amputasi. Dampaknya, beberapa rekan guru jadi kelimpuangan dibuatnya. Bukan sekerdar sertifikasi akan lenyap, tapi juga bayang-bayang tak akan mengajar lagi menghantui mereka.

bendera mera putih

Dalam HARDIKNAS ini kami ingin menyuarakan, “Apapun kurikulumnya, model pendanaanya, sistemnya, dan aturan lain akan jadi percuma jika kualitas guru-gurunya masih rendah. Rekrutmen guru dan pembuatan perguruan tinggi keguruan harus benar-benar jadi sorotan pemerintah agar dapat menciptakan guru-guru yang bisa mengajar dengan setulus jiwa yang diimbangi kemampuan profesional guru layaknya Bu Mus di Laskar Pelangi”. 

Untuk guru-guruku di negeri tercinta, masih ada waktu untuk kita berbenah.  Mari ciptakan pembelajaran inovatif sebagai rasa kemerdekaan guru. Kurikulum boleh dibuat pemberintah, tapi sekolah dan guru harus cerdas meramu sehingga sesui dengan kondisi sekolah dan tingkat psikologi siswa.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

guraru

AYO MENDIDIK | m. subakri

 

***************

ANIMASI AYO MENDIDIK DINAS TERKAIT

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Mei 2, 2014, in ceritasekolah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: