6 akibat ujian tidak jujur

ujian 72Tak Ada Gading Yang Tak RetaK. Seburuk apapun kita tahun kemarin di tahun pelajaran 2014/2015 ini kita mulai niatkan bersama-sama untuk menutup luka dan dosa. Nilai baik dari rekayasa bukan jalan baik untuk membuat anak-anak kita sukses atau lembaga kita terangkat olehnya. Energi kebaian akan tetap kembali menjadi energi baik, begitu sebaliknya. Tak ada orang sukses dengan ketidak jujuran (hukum alam)Ujian sudah menorehkan banyak hal dalam dunia pendidikan. Bagi mereka yang melaksanakan dengan jujur tentunya berjuang habis-habisan untuk mempersiapan diri. Tanpa rasa kuatir dengan hasil, karena mereka percaya dengan program yang salah satunya adalah berdo’a kepada Allah dan yakin lulus dengan bantuan-Nya. Berbeda dengan lembaga yang setengah hati dalam program sekolah menghadapi ujian. Sama dengan lembaga yang memiliki kekuatiran berlebih akan ketidak lulusan siswanya, yang akhirnya banyak cara  “tidak baik” mereka lakukan untuk mendapatkan nilai.
Berikut ini 6 hal yang mungkin bisa kita cermati akibat dari “pembelajaran tidak baik” saat kita menghadapi ujian.
1.    GURU SEMAKIN MALAS MENGAJAR, SISWA MALAS BELAJAR
Proses pembelajaran tidak akan menjadi maksimal dikarenakan guru sudah punya anggapan tidak ada gunanya “ngoyo” dalam pembelajaran, karena mereka tahu saat  ujian siswa-siswi bisa diajari dan nilaipun jadi baik. Kalau nilai saja sudah baik kenapa meski susah payah mengajari setiap hari???

2.    SISWA PUNYA BIBIT CURANG
Mulai masuk sampai saat akan ujian tentunya kepala sekolah dan guru mengajarkan ahlak yang baik kepada seluruh siswa. Terutama sikap jujur, dengan berbagai model pembelajaran sudah diterapkan untuk mencetak karakter jujur. Kegiatan itu berlangsung bertahun-tahun.
Sangat disayangkan, perjuangan berat membentuk karakter jujur itu harus hilang hanya gara-gara perbuatan 3 sampai 4 hari karena kita mengajarkan ketidak jujuran dalam menghadapi ujian.
Tentunya kejadian 3 hari itu akan diingat oleh siswa, dalam kondisi-kondisi kritis yang lain mereka akan melakukan hal yang sama “tidak jujur” “boleh dilakukan kata guru (sekolah) saya dulu”. Anda mau akibat perbuat kita, mereka seperti itu kelak???

3.    WIBAWA GURU JATUH
Guru (digugu dan ditiru), sebuah selogan yang tidak hanya harum tapi juga menginspirasi. Semua itu akan menjadi jatuh hina dina saat guru sudah mengajarkan kepada siswanya usaha tidak jujur hanya untuk menghadapi ujian. Nama guru akan dicatat oleh siswa sebagai guru yang tidak patut diteladani. Mereka akan menertawakan setiap ingat kita, apa lagi saat kita berbicara tetang kejujuran. Mereka pasti tak menerima apa yang kita anjurkan, kenapa? Karena kita sendiri tidak mengajarkan kejujuran. Maukah Anda harumnya nama guru tercemar?

4.    PEMBOHONGAN PUBLIK
Orang tua (masyarakat) bangga karena putra-putrinya mendapat nilai bagus, mereka beranggapan bahwa nilai tersebut hasil murni dari hasil ujian. Pemahaman bahwa anaknya sudah berhasil membuat orang tua merasa cukup dalam memantau pendidikan putra-putrinya. Namun yang terjadi sebaliknya, banyak nilai yang sudah “dibuat dengan cara tidak baik”. Hal ini kami katakan pembohongan publik yang akan membuat pendidikan semakin terpuruk karena orang tua sudah merasa berhasil mengondisikan belajar putra-putrinya.

5.    PENDIDIKAN SEMAKIN TERPURUK
Hasil belajar hanya bisa dilihat dari angka-angka saja bisa dengan kalimat lain belajar sukses hanya dari pengukuran pegetahuan (kognitif) saja, tidak begitu memperhatikan kemampuan siswa dibeberapa bidang. Telaknya lagi, angka-angka itu tidak mengambarkan kondisi kenyataan siswa karena ada kecurangan dalam ujian. Jika ini terus kita pertahankan maka pendidikan kita semakin tahun akan semakin terpuruk. Maukah negara kita semakin terpuruk gara-gara pendidikan kita juga terpuruk???

6.    MERUGIKAN SISWA LAIN SAAT MENDAFTAR KE LEMBAGA YANG LEBIH TINGGI
Sesuai peraturan sekarang untuk masuk ke lembaga yang di atasnya masih memakai DANUN atau DANUAS. Semua siswa berdebar-debar begitu juga orang tua akan nasib putra-putrinya. Sangat sedih sekali jika ada nilai yang dipakai dan nilai itu hasil ketidak jujuran saat ujian. Dengan kalimat lain, kita sudah mendholimi semua nilai yang didapatkan dengan jujur dan mendapat rengking di bawahnya. Bahkan ada siswa yang harus tidak diterima karena banyaknya nilai “permak”. Siapa yang mendholimi? Tentnya yang merekayasa nilai tersebut. Maukah kita mendapat dosa yang berlipat-lipat???

ujian 72TAK ADA GADING YANG TAK RETAK. Seburuk apapun kita tahun kemarin di tahun pelajaran 2014/2015 ini kita mulai niatkan bersama-sama untuk menutup luka dan dosa ditahun kemarin. Nilai baik dari rekayasa bukan jalan baik untuk membuat anak-anak kita sukses atau lembaga kita terangkat olehnya. Energi kebaian akan tetap kembali menjadi energi baik, begitu sebaliknya. Tak ada orang sukses dengan ketidak jujuran (hukum alam).  Semoga kita (guru) dan lembaga kita akan semakin baik dengan kejujuran yang dimulai dari kita sendiri. Semoga ***  by_admin am

Iklan

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Juli 16, 2014, in ceritasekolah and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. SEBETULNYA TERGANGTUNG KITA SAJA PAK BIARLAH YANG TERJADI DILUAR WALAUPUN DI BERTAHUKAN TETEP MALAH MELAWAN KITA ,KITA BERUSAHA DARI KIITA SENDIRI DULU DAN KOMETMEN DENGAN ANAK KITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: