mencoba mendaftar di sekolah favorit murid desa diragukan kemampuannya

mendaftar ke smp  ayo mendidikTulisan ini berlatar belakang dari pernyataan salah satu pendamping bagian pendaftaran di sebuah sekolah. Dengan yakin diterima, kami memilih hari-hari terakhir pendaftaran sambil mengamati rengking para pendaftar sejak hari pertama.
Setelah merasa lengkap dengan berkas tersebut saya sengaja tidak mengajak siswa dan orang tuanya untuk ke bagian pendaftaran. Mereka saya persilahakan duduk di sofa ruang tamu sekolah tersebut. Bagian pendaftaran segera memeriksa berkas-berkas siswa kami, salah satu guru yang duduk menemani bagian pendaftaran tiba-tiba mengucapkan sebuah pernyataan, “Pak, kalau anaknya memiliki danun bagus tapi kemampuannya biasa mending dicarikan sekolah yang cocok buat anaknya, takut nanti di sini tidak mampu mengikuti pelajaran”.

Kalimat itu saya dengarkan biasa saja dan saya tanggapi untuk meyakinkan bahwa siswa kami memang mampu, bahkan tahun sebelumnya sudah ada kakak kelasnya yang sekolah di sekolah tersebut. Namun Si Bapak tersebut mengulangi kalimat yang dia ucapkan sebelumnya. Saya sarankan lembaganya mengadakan tes. Mereka memberikan banyak alasan dan salah satunya adalah dindik tidak mengijinkan.

siswa-siswi desa juga pernah ikut try out di sekolah kota, mengukur kemampuan desa dengan kota "sekolah boleh desa, otak tidak ndesani"

siswa-siswi desa juga pernah ikut try out di sekolah kota, mengukur kemampuan desa dengan kota “sekolah boleh desa, otak tidak ndesani”

Ibu bagian pendaftaran menyampaikan bahwa berkas kami ada yang kurang, kemudian kami mencoba melobi bahwa nilai rekap seluruh siswa juga kami bawa sebagai bukti keaslian danun. Betapa terkejutnya saya mendengar kalimat yang dikatan Si Bapak tadi, “kalau begini ya ndak kanggo”. Kepala jadi nyut-nyut mendegar kalimat tersebut. Saya mencoba menenangkan diri karena saat itu sudah ramadhan. Si Bapak tadi malah melanjutkan kalimatnya, “Beri tahu juga buat teman-teman di daerah meski DANUNnya bagus tapi kemampuan anaknya tidak bagus sekolahkan di sekolah yang cocok saja”. Akhirnya dengan nada tinggi saya sampaikan bahwa selama ini kami benar-benar sudah mengajarkan kejujuran agar anak-anak mengerjakan ujian dengan kemampuan sendiri dan tidak ada campur tangan guru, pengawas, atau pihak lain. Bahkan sebelum ujian kami sengaja membuat program agar seluruh siswa yang akan mengadakan ujian siap dengan cara try out sampling, meski tidak direstuai oleh beberapa pihak, bahkan banyak hal yang sudah kami lakukan agar siswa kami ujian jujur. Kami juga sempat mengupload tulisan-tulisan agar jujur dalam ujian.

Kalimat guru pendamping pendaftaran tadi begitu menyakitkan bagi kami yang sudah berusahan mengajarkan kejujuran dalam ujian, namun karena anak desa dengan danun tinggi tetap juga dianggap tidak jujur. Seharusnya pihak sekolah yang akan menerima siswa baru tidak perlu mengucapkan hal tersebut, karena tidak semua guru menerapkan cara curang dalam ujian. Mungkin bisa dilakukan dengan cara yang lebih bijak sana, semisal menawarkan program sebelum ujian agar sekolah-sekolah jujur dalam pelaksanaan ujian atau bahkan melakukan ujian tes masuk dengan kemasan cerdas dan kreatif.

Hasil diskusi ringan dengan pengamat pendidikan tentang kejadian ini, “Pihak pendaftar begitu getol agar mendapat siswa dengan nilai murni sehingga mendapat siswa yang bagus, tapi lupa dengan lembaganya sendiri yang menerapkan ujian tidak jujur saat siswanya mengadakan ujian akhir”. Setelah kami renungkan, benar juga pernyataan beliau.
Di sisi lain kami juga prihatin dengan guru dan kepala sekolah yang BANGGA dan TERTAWA ketika sekolahnya mendapat nilai tinggi padahal hasil dan tidak jujur saat ujian. Mereka malah MENERTAWAKAN bahkan MENCEMOOH nilai kecil yang didapat siswa atau lembaga dengan cara ujian jujur. Inilah sebagian wajah kepala sekolah dan guru-guru kita, namun tentunya tidak semua guru dan lembaga menerapkan hal ini.

Setelah konfirmasi ternyata kejadian tadi hanya dilalukan oleh satu pihak saja (guru) bukan merupakan program sekolah untuk menyarankan demikian kepada pihak pendaftar. Namun, hal ini akan fatal jika yang diberi saran adalah pihak orang tua yang mendaftarkan. Karena pihak orang tua tidak begitu paham dengan pelaksanaan ujian di sekolah putra-putrinya. Peristiwa ini mengingatkan kepada kita agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan argumen. Juga pelajaran bagi kita bahwa kejujuran guru dan kepala sekolah sudah diragukan oleh banyak pihak terutama saat ujian. Apakah kita akan tetap bertahan dengan kondisi yang mencoreng dunia pendidikan kita, jawabanya ada di Anda???!!

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Juli 21, 2014, in cerita siswaku, ceritasekolah and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: