kalimatmu semanis buah apel yang dulu

KALIMATMU SEMANIS BUAH APEL YANG DULU lentera zamanLangkah kecilmu terdengar di tangga kedua gedung lama itu. Semakin lama semakin terdengar jelas gesekan suara sepatu dan lantai keramik usang. Mulai nampak dibalik tembok yang sudah butuh sentuhan cat baru. Senyum indah menghiasi kerudung coklat yang engkau pakai. Semakin dekat semakin nampak senyum lugumu. Siang itu hari Sabtu, masih ku ingat karena kelelahan duduk di depan bascamp usai melatih pasukan pengibar bendera untuk upacara hari Senin.

Aku tak pejamkan mata saat langkahmu berhenti. Timbul banyak tanya kenapa engkau berhenti. “Masih mau oleh-oleh ya?”, bibir kecilmu bergerak. “Oleh-oleh?”, jawabku heran. “Iya, mau apa tidak?”, tanyamu polos. Aku semakin heran tiba-tiba dia tanya demikian.

Kerut jidatku pasti nampak jika saat itu ada kamera yang merekamnya. Mencoba mengingat-ingat kenapa dia tiba-tiba tanya tentang oleh-oleh. Ah, baru ingat. “Oh iya, kamu baru datang dari Batu Malang ya?”, tanyaku semangat. Gadis kecil itu hanya tersenyum sambil menggerakkan tangan kanannya yang dari tadi disembuyikan dibalik punggungnya. Mataku fokus ke tangan dia. Heeee … Nampak sebutir apel berada di atas tangan gadis kecil kelas IV (empat) Sekolah Dasar.

KALIMATMU SEMANIS BUAH APEL YANG DULU“Ini oleh-olehnya”, sambil melihat ke apel tersebut. “Untuk saya?”, tanyaku mengiba. Tanpa berkata gadis kecil itu bergerak menuju tempat aku bengong. Setelah memberikan buah itu, mencium tangan kananku, dia balik badan sambil berlari, “Assalamualikum …”. Ku lihat gadis kecil berbaju pramuka berlari sampai tertelan anak tangga di lantai dua. Ku pandangi sebutir apel itu. Lumayan besar juga, cukup untuk mengganjal perut yang memang waktunya diisi. Namun ku urungkan niat itu karena ini barang spesial menurutku.

Dia adalah salah satu siswi di sekolah tempat aku mengajar dulu. Kami cukup akrab meskipun aku belum pernah mengajar dia di kelas, karena saat istirahat atau jam pulang kadang dia meminta aku mengajarinya belajar trik-trik cepat matematika. Pernah juga kita nikmati sayupan angin siang bersama dua temannya di lantai teras ruang kelas VI, lantai 3 bangunan lama SD sambil belajar matematika. Ah, seolah dia bukan murid, malah layaknya adik bahkan seperti anakku sendiri.

Tiap dia datang dari berlibur di Batu Malang, pasti membawa oleh-oleh untukku. Tiap oleh-oleh pasti tidak dalam bungkus kresek atau tas. Memang karena satu butir ya tak pantas dibungkus plastik. Hadiah itu cukup berarti bagi aku, karena bukti perhatian dia pada gurunya. Tanda buildingreeport terjalin atara kami. Dengan demikian saya bisa memberikan nilai-nilai kebaikan padanya.

SMP dan SMA kami tetap memberi kabar meski hanya via sms. Banyak sahabat yang memberi ucapan selamat ulang tahun. Aku selalu membalas jangan ucapkan itu, karena tidak boleh merayakannya. Akhirnya sahabat yang aku kenal tak pernah memberi ucapan selamat ulang tahun lagi. Tapi tidak untuk siswaku ini. SMP bahkan SMA dia masih saja ingat dengan tanggal itu.

Berkisar 3 tahun kami tak pernah berjumpa. Beberapa bulan yang lalu aku lihat FBnya. Nampak kini fotonya sudah beda dengan saat dia di SD dulu. Aku tak melihat wajahnya, di foto yang dia unggah nampak jilbabnya yang panjang dan berwarna gelap. Bahasanyapun sudah sangat berbeda. Sepertinya ilmu agamanya sudah mumpuni.

Aku inboxkan sebuah kalimat agar dia mendukung aku dalam sebuah lomba. Aku berharap dia benar-benar mendukung aku dalam kegiatan ini. Dengan seluruh keyakinan pasti dia akan membalas, “Iya Tadz, saya akan mendukung dan mengisi data-data yang ustadz inginkan”. Ah, kalimat itu hanya khayalanku belaka. Ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Balasan dia berbeda 1800 dari prediksi sebelumnya.

KALIMATMU SEMANIS BUAH APEL YANG DULU ayo mendidik“Bismillah … Apakah ini yang Bapak cari selama ini untuk menjadi guru?”, kalimat di inbox yang membuat aku kaget. “Keikhlasan Bapak menjadi guru akan hilang jika hanya berharap sebuah penghargaan semu seperti ini”, lanjutan kalimat itu. “Mohon ma’af aku tidak bisa mengisi data itu, karena aku menghargai Bapak sebagai guruku yang setia dan ikhlas sebagai pendidik, bukan karena sebuah penghargaan”.

Sebuah rantaikan kalimat yang membuat hatiku pedih juga bangga. Pedih karena dia tidak mendukungku, namun juga bangga karena dia sudah mengingatkanku untuk menjadi guru yang sebenarnya guru. Dalam hatiku, “Kini hadiah buah apel itu menjadi sebuah kalimat yang manis dan segar untuk diri dan jiwaku”.

Untuk murid kecilku yang lucu dulu, terima kasih atas buah apel tanda hormatmu, kebersamaan, dan kejujuranmu. Engkau kini sudah kuliah diperguruan tinggi ternama, semoga Allah menjadikan engkau generasi yang soleha.

Tulisan ini diikutkan dalam  Giveaway Edukasi | Dari Mereka Aku Belajar “

giveawayedukasitulisan ini disertakan diprogram menjadi guru inspiratif

Iklan

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on November 15, 2014, in cerita siswaku, lomba menulis and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Mau sharing boleh ya min, coba akses http://www.superkidsindonesia.com, portal untuk anak-anak di indonesia. Anak indonesia yaaa superkidsindonesia.com 🙂

  2. Terima kasih sudah berkontribusi di #GiveawayEdukasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: