ketika muridku tak mau baca puisi lagi

msp 4Pagi yang indah itu kulangkahkan kaki masuk ke kelas sekolah desa. Nampak siswa di pojok depan duduk bersama sahabat dekatnya. Ku julurkan tangan seraya mengucapkan selamat, “selamat ya, sudah juara satu cipta dan baca puisi!”. Dia nampak tersenyum berat.

Ada gelisah di wajahnya. Aku lanjutnyakan bertanya, “Pingin  ke propinsikan?”, “Dia mengelengkan kepalanya”. Begitu terkejutnya aku … dia tidak ingin ke propinsi. Sebuah jawaban yang tidak pernah aku sangka-sangka. Pembinaan puisi sejak kelas 3, kini harus berahir dengan gelengan kepalanya. Aku coba menangkan hati dengan berbalik tak bertanya sekata-patahpun. Aku masih belum percaya dengan jawabannya.

Setelah tenang, aku kembali padanya. Tetap bersama teman dekatnya, aku berusaha mengungkap kenapa dia tidak mau ke propinsi. Bukan jawaban yang aku dapatkan, tetesan air mata itu membuat aku semakin bingung. “Sudah diam, silahkan sholat duha tulu bersama temanmu, Semoga nanti lebih tenang”.

Aku semakin bingung …. kenapa? Siswa yang dulu aku andalkan untuk bisa ke nasional, membawa nama harum sekolah desa ini, kini berubah dalam waktu sekejab.

Setelah seluruh siswa pulang, bersama 3 siswa yang lain kami latihan. Ada sesuatu yang aneh padanya. Usai membaca puisi tubuhnya keringatan, badanya agak bergetar. “Kamu kenepa, masih laper ya?” tanyaku. “Dia mengelengkan kepala”.  Siswa yang sudah biasa ikut lomba sampai tingkat Jawa Timur ini sudah tak seperti sebelumnya. Aku semakin bingung. Aku tak melanjutkan latihan. Tak tega aku melihatnya.

Dia ditingal ibunya sejak usia TK. Ibunya yang berpisah dengan suaminya harus merantau ke pulau Kalimantan. Sejak itu ia tinggal bersama neneknya. Sekitar 3 bulan yang lalu ibunya datang dengan suami barunya. “Ah, apa ini penyebabnya? bukan  …. mungkin ada hal lain”. Banyak hal di otakku ….

Sejak itu aku tidak berani mengajaknya latihan, tak tega melihat dia membaca puisi dengan fikiran yang kalut. Motivasi terus ku dengungkan di sela-sela kegiatan pembelajaran di kelas.

Malam sebelum lomba, aku dengar hasil latihan siang tadi. Rekaman dengan hp itu cukup jelas mengambarkan video dan suaranya yang terdengar tak seperti dulu lagi. Aku hanya bisa menyimak dengan tertegun …..

Pagi ini lomba HAN akan segera dimulai, aku melihat dia tak semangat seperti lomba-lomba sebelumnya. Hari ini benar-benar hari yang panjang bagiku … Panitia sudah mengumumkan 2 cabang lomba yang lain. Giliran cipta dan baca puisi … terdengar dari pengeras suara, “juara harapan 3 ananda ……. nama siswaku sudah disebutkan. Tahun ini kami harus diharapan 3. Dua tahun menajadi juara 1. Target juara 1 ditahun ke 3 ini harus tersudahi sudah … mungkin ini yang terbaik buat kami.

Kami sudah berusaha ….

ayo mendidik semangat 50 pix

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on Februari 18, 2015, in cerita siswaku, puisi and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum… mungkin kasusnya ustad sama dengan kasus yang saya hadapi ketika siswa saya yang dibina mulai kelas 4 yang dulu dah sampai propinsi. sekarang di kelas 5 tiba-tiba tidak mau lagi ikut lomba, dengan alasan capek. Apa ada yang salah ya… mungkin latar belakang permasalahan tidak sama… wah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: