gadis kecil gigis bersanding makam saat latihan puisi

dialoq guru mi dan sd ayo mendidikUsai sholat Jum’at di masjid yang dingin itu nampak mendung di langit. Rintik hujan mulai turun, bergegas aku berangkat menuju sekolah itu. Di tikungan itu, dari jauh nampak kubah Masjid Agung kota Lumajang. Ah, seolah ada di atas awan. Setelah melewati jalan tak beraspal yang naik turun dengan hiasan tanaman tebu sepanjang jalan, sampailah ke wajah sekolah yang mungil itu.

Suasana hening tat kala melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah unik ini. Sekolah dengan musolah munggil bertingkat. Keheningan dan udara yang sejuk mengingatkan aku saat pelatihan di Batu Malang. Beberapa kelas kecil berjajar membentuk huruf L. Dua anak kecil sudah menunggu di teras kantor sekolah. Sebuah nama di papan yang sudah usang dan berlumut tertulis “MI Al-IKLAS KANDANGAN”, sekolah unik di tengah kebun kopi.

nampak bangunan MI Al_Ihklas yang unik

nampak dari jauh bangunan MI Al_Ihklas yang unik

Ngobrol di teras depan kantor sekolah ini begitu syahdu. Saat tak ada percakapan antara saya, Ust Udin (KS MI Al-Ihklas) dan Ust Imron suasana segera sunyi menyelimuti sore itu. Tiba-tiba gadis kecil kelas 2 datang dan menyalami kami. Heeee … aku sebut dia putri kecil … siswa MI Al-Ihlas kelas 2 yang akhif ikut latihan … giginya yang “gigis” nampak saat tertawa menambah kepolosannya.

Pukul 13.05 sudah nampak di jam dinding kantor. Kami berpamitan menuju ruang kelas untuk latihan puisi. Baru masuk kelas, begitu terkejut mendengar kata-kata salah satu siswa, “mbe mak bede koburan” (wah … kok ada makam-red). Sepontan aku menoleh ke kiri, memang benar nampak jelas di jendela kelas kecil itu, berjarak berkisar 3 sampai 4 meter terdapat satu makam di antara tanaman kopi. Tanah di sebelah kelas lebih tinggi (berundak) jadi seolah-olah makam itu pas berada di jendela kelas. Heeeee …. Ruang kelas kecil bermejakan 7 buah itu jadi serem juga ya ….. 😦

Setelah berdo’a, kami memulai latihan puisi. Kegiatan awal adalah lomba baca puisi dengan judul “Wayang Kulit”. Alhamdulillah, beberapa anak sudah nampak bakatnya. Insyaallah mereka sudah siap untuk mengikuti lomba. Meski mereka masih kelas 2 dan 3 kemampuannya sudah lumayan. Semua ini juga berkat pembinaan guru-guru mereka di sekolahnya. Selang beberapa menit kemudian Ustadzah Roaidah hadir menambah semangat kelas kami.

ayu berlatih mimik, nampak sebelah kiri putri kecil dan kanan putri besar

ayu berlatih mimik, nampak sebelah kiri putri kecil (baju pramuka) dan kanan putri besar

Kegiatan berikutnya adalah berlatih mimik. Pentingnya bermain wajah dalam puisi juga mempengaruhi penyampaikan baca puisi. Lumayan ada perubahan pada anak-anak. Semoga bisa dilatih lebih mantab di sekolah masih-masing. Kegiatan akhir adalah membuat puisi dengan tema bunga. Heeee … meski kelas 2 dan 3 serta sekolah di MI desa hasil cipta puisi mereka lumayan juga looo.

tim puisi dari beberap MI, latihan kali ini ada beberapa siswa tidak hadir

foto bersama di halaman mi al-ikhlas kandangan. tim puisi dari beberap MI, latihan kali ini ada beberapa siswa tidak hadir. dari kiri ust udin, siswa, ustadzah roaidah, siswa, admin ayo mendidik

Saya harus segera mensudahi kegiatan ini. Tak terasa sudah pukul 14.30 lebih, masih ada janji dengan kepala sekolah TK di tempat lain. Kami berpamitan, Ust Udin dengan lugu memberikan oleh-oleh buah durian hasil tanaman di sekitar sekolah dan home industrinya yang sukses (kripik mbonde). Oh, iya Ust Udin selain menjadi kepala sekolah beliau juga punya usaha di rumahnya. Home Industri kripik ketela yang sudah banyak dinikmati banyak orang di Lumajang. Saya sempat membaca di tulisan beliau secara garis besar seperti ini, “mendidik di sekolah bekalku di akhirat, home industry bekalku di dunia”. Salut buat guru-guru swasta yang terus bersemangat. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua.

saat guru negeri bertemu guru swas

“saat guru negeri bertemu guru swasta”, kalimat ini saya ambil dari status ust udin

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on April 20, 2015, in ceritasekolah, puisi and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: