asistenku siswa terbelakang

halimah duduk di kursi kelas vi ayo mendidik copySepeda motor mulai berhenti di parkir sekolah. Gadis kecil itu sudah ada di sampingku dengan gigi yang nampak jelas. Tertawa tanpa suara menunjukkan kondisi mentalnya yang tidak sama dengan teman-teman sebayanya. Tiap pagi ia pasti datang menjemputku tersenyum kosong dan menjulurkan tangan untuk bersalaman. Seolah-olah mau menghibur rasa letih perjalanan dari rumah yang berjarak berkisar 25 km.

halimah duduk sejak berdoa hingga akhir belajar copyIa akan sangat bahagia tatkala saya mita tolong menaruh tas di meja kelas VI. Dengan semakin menyeringai ia membawa tas berat itu menuju kelas VI tempat aku mendidik. Beberapa detik kemudian ia sudah berlari menghampiri memegang tangan, dan memeluknya sambil kami berjalan bersama beriringan dari tempat parkir ke ruang kelas.

Sebut saja namanya Halimah, gadis kecil yang seharusnya duduk di kelas III ini masih duduk di kelas II. Saat kelas I ia pernah tidak naik satu kali. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya dewan guru memutuskan menaikkan ke kelas II.

Sejak setahun yang lalau Halimah suka berada di kelas VI. Mulai pagi ia sudah duduk di kursi siswa kelas VI, jika ada siswa yang tidak masuk. Namun jika seluruh siswa hadir maka ia duduk di kursi guru. Kodarullah, kursi guru ada dua di depan.

halimah selalu ikut bergerak kami menjelaskan materi_ayo mendidik copyHalimah betah di kelas VI kemungkinan karena siswa kelas VI bisa mengondisikan Halimah. Mereka memberikan peluang kepada Halimah untuk melalukan apa saja di ruang kelas VI. Terkadang siswa kelas VI membantu membetulkan bajunya yang berantakan. Kami berusaha memberikan pengertian kepada siswa kelas VI untuk menerima keterbatasan Halimah, bukan malah menggoda, menghina, atau menjauhinya.

Dengan minimnya kemampuan dalam mendidik siswa berkebutuhan khusus (terbelakang mental). Di lain sisi mengajar kelas VI benar-benar butuh waktu yang ekstra. Membimbingya hanya sebisanya, sesekali waktu saya membuat tulisan dan gambar untuk dikerjakannya. Namun, Halimah hanya mampu membuat lingkaran-lingkaran kecil. Lingkaran kecil itupun tidak utuh membentuk lingkaran. Di setiap lingkarannya pasti ada celah. Bentuknya agak loncong dari atas ke bawah.

Di dalam keterbalakangannya, ia memiliki keistimewaan sendiri. Jika ada kelas kotor maka ia akan meminta ijin untuk membersihkannya. Jika papan tulis kotor maka ia menjadi relawan membersihkan. Bersih sekali jika ia menyapu atau menghapus papan. Menyiram bunga juga kesukaanya.

Jika ada siswa jatuh ia relawan pertama yang ikut membantu. Mengambilkan air untuk membersihkan luka. Mengambilkan tempat sampah untuk kapas. Ia sangat setia pada tugas yang diberikan guru.

Alhamdulillah, ia sekarang mulai bisa mengantarkan sesuatu ke guru lain. Meskipun untuk menyuruh memberikan sesuatu kepada seseorang, saya harus menunjukkan foto guru yang dituju. Karena jika kami berbicara, ia kurang faham dengan apa yang kami sampaikan. Bicaranya tak mampu lebih dari 2 kata. Kemampuan berbicaranya terbatas. Misalkan “Apa ini?” ia katakan “pani?”, “Bapak” ia katakan “apak”.

halimah duduk di kursi kelas vi ayo mendidik copySaat asyik menerangkan. Kadang sikapnya aneh, tiba-tiba ia mencium badan, lengan, dan pipi. Awalnya sih risih juga. Mungkin ia melampiaskan rasa senang dan bahagianya.

Sering neneknya datang ke sekolah menjemput, karena siwa kelas II sudah pulang ia masih betah di kelas VI. Halimah tinggal dengan neneknya, ayah dan ibunya menjadi TKI di Malaysia sejak ia dilahirkan. Harapan saya semoga dalam tumbuh-kembangnya Halimah bisa lebih baik, meskipun kami terbatas dalam mendidiknya.

Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku”

  • Fotografer :
  • foto 1 m subakri (guru) “pagi hari saat doa bersama”
  • foto 2 rofik (siswa) “halimah terkadang ikut berjalan di belakang saat kami menerangkan”
  • Foto 3 rofik (siswa)”haliimah ikut mengamati percobaan konduktor panas”
  • diambil hari Jumat (6-11-2015) dengan kamera hp saat pembelajaran ipa materi konduktor dan isolator panas_ ruang kelas vi sdn jambekumbu 01 kec. pasrujambe kab. lumajang jawa timur
  • Harapan kami:
  • Semoga Halimah (yang seperti halimah) tetap bisa diterima dan dididik semaksimal mungkin. bukan jadi olok-olokan oleh siswa apa lagi pendidik.
  • Semoga pemerintah bisa mendata sekolah yang memiliki siswa seperti halimah dan memberikan pelatihan kepada guru di sekolah-sekolah tersebut cara menangani siswa berkebutuhan khusus.

About ayomendidik

mejadi guru yang lebih inovatif, kreatif, cerdas, menyenangkan dan tentunya beriman

Posted on November 8, 2015, in lomba menulis and tagged , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Aamiin…semoga Halimah tumbuh kembangnya bisa lebih lagi… 😀

  2. hampir nangis saya baca tulisan ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: